LIPI Serahkan Sertifikat Akreditasi Majalah Ilmiah Periode III 2016

Jumat, 16 Desember 2016 – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), melalui Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan (Pusbindiklat) Peneliti-LIPI, untuk ketiga kalinya di tahun 2016 menyerahkan SK Kepala LIPI dan Sertifikat Akreditasi Majalah Ilmiah Periode III Tahun 2016 yang merupakan hasil sidang akreditasi majalah ilmiah periode III, tanggal 31 Oktober 2016. Total 11 jurnal usulan majalah ilmiah dari berbagai instansi dan organisasi profesi melakukan usulan akreditasi baru dan ulang, terdiri dari 1 majalah ilmiah usulan akreditasi baru dan 10 majalah ilmiah akreditasi ulang.DSC_0185

Hasil sidang diputuskan 7 majalah ilmiah berhasil mendapatkan klasifikasi sebagai majalah ilmiah terakreditasi dan 4 majalah ilmiah tidak terakreditasi. Ketujuh majalah ilmiah terakreditasi tsb.  diterbitkan oleh beberapa instansi, yaitu: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (satu jurnal); Kementerian Kesehatan (tiga jurnal); Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (1 jurnal); Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (satu jurnal); dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (satu jurnal).  Masa berlaku bagi jurnal terakreditasi dengan aturan baru ini adalah lima tahun, namun akan tetap dipantau dan dievaluasi secara ketat. Sertifikat diserahkan oleh Sekretaris Utama LIPI: Dr. Siti Nuramaliati Prijono didampingi Ketua Panitia Penilai Majalah Ilmiah (P2MI), Prof. Dr. Lukman Hakim, M.Sc. dan Kepala Pusbindiklat Peneliti LIPI, Prof. Dr. Dwi Eny Djoko Setyono, M.Sc., kepada 7 Redaksi Majalah Ilmiah Terakreditasi LIPI. Sampai dengan bulan Desember 2016 terdapat 195 majalah ilmiah yang telah terakreditasi  LIPI. Jumlah tersebut mengalami penurunan dari jumlah periode sebelumnya yaitu 199 majalah ilmiah, karena terdapat pengurangan sejumlah tiga majalah ilmiah yang tidak lolos akreditasi ulang, dan satu majalah ilmiah yang dicabut akreditasinya karena tidak melakukan reakreditasi.

Dalam sambutannya Sestama LIPI yang akrab dipanggil Ibu Lili menyampaikan, berkenaan dengan mulai diberlakukannya secara penuh peraturan baru per 1 April 2016, yaitu PerKa LIPI No. 3 Th. 2014 tentang Peraturan Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah, mendorong bagi jurnal ilmiah, baik yang masih dikelola secara tercetak (printed) atau secara campuran (cetak dan elektronik) agar segera beralih menuju pengelolaan elektronik secara penuh (full online). “Hal tersebut bukan saja karena peraturan yang mempersyaratkan agar jurnal dikelola secara elektronik, namun karena pengelolaan secara elektronik dapat menaikkan nilai sitasi dan indeksasi bagi suatu jurnal ilmiah, baik di tingkat nasional maupun global, “ ujarnya.

DSC_0165Lili menyampaikan keprihatinannya bahwa nilai sitasi dan indeksasi jurnal ilmiah Indonesia di kancah globah masih menduduki peringkat yang rendah. Berdasarkan data terkini dari laman indeksasi Scopus, yaitu SJR (Scimago Journal & Country Ranks), Indonesia menduduki peringkat ke-57 dari seluruh negara di dunia. Sedangkan, untuk wilayah Asia, Indonesia menduduki peringkat ke-11, di bawah Pakistan, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Lebih jauh Lili menjelaskan, “Berdasarkan data per Desember 2016, publikasi Indonesia yang terindeks Scopus adalah sejumlah 39.719 artikel. Sedangkan negara tetangga kita, Malaysia, memiliki 181.251 artikel terindeks Scopus. Jika dibandingkan, maka publikasi Indonesia hanya seperlima dari publikasi Malaysia. Jumlah tersebut tentu sangat jauh dari jumlah publikasi ideal yang seharusnya kita capai. Berdasarkan data yang dikeluarkan Scopus per Oktober 2016, saat ini terdapat 20 jurnal terbitan Indonesia yang telah diindeks Scopus. Yang memprihatinkan, tidak ada dari 20 jurnal tersebut yang merupakan terbitan dari lembaga litbang. Kedua puluh jurnal tersebut semuanya berasal dari perguruan tinggi maupun lembaga swasta,” jelas Lili.

Lebih jauh Lili menekankan situasi  tersebut perlu menjadi perhatian kita bersama, karena meskipun peringkat indeksasi hanya merupakan salah satu komponen untuk menilai kualitas suatu jurnal ilmiah—namun hal tersebut tidak juga dapat diabaikan—sebab peringkat indeksasi justru menjadi capaian tersendiri yang dapat menaikkan martabat dan reputasi suatu jurnal ilmiah. “Sebagai instansi pembina jabatan fungsional peneliti sekaligus akreditasi jurnal ilmiah di lingkungan lembaga litbang, LIPI mendorong agar jurnal ilmiah terakreditasi semakin meningkatkan kualitasnya, baik dari sisi substansi artikel, pengelolaan, maupun dari capaian sitasi di lembaga pengindeks bereputasi. Sebagai langkah awal, saat ini, kami mendorong agar jurnal ilmiah dapat meningkatkan capaian indeksasi di Google Scholar. Meskipun Google Scholar masih tergolong sebagai lembaga indeksasi bereputasi rendah, namun setidaknya indeksasi tersebut dapat digunakan untuk membangun reputasi jurnal di kancah global. Kami juga mendorong agar majalah-majalah yang telah terakreditasi beranjak ke capaian berikutnya, yaitu menuju internasionalisasi jurnal ilmiah. Sampai saat ini, baru enam jurnal terakreditasi nasional dari lingkungan Litbang yang ditetapkan LIPI memperoleh klasifikasi internasionalisasi jurnal ilmiah. Keenam jurnal tersebut, adalah: (1) MEV Journal; (2) Reinwardtia; (3) Marine Research in Indonesia; dan (4) Treubia (keempat majalah tersebut diterbitkan oleh LIPI); berikutnya (5) Atom Indonesia (BATAN); serta (6) Indonesian Journal on Geoscience (Kem. ESDM). Sebagai salah satu apresiasi, jurnal-jurnal tersebut berhak memperoleh penilaian angka kredit mulai dari 30 s.d. 35 AK bagi artikel-artikel yang dipublikasikannya. Beberapa jurnal tersebut saat ini juga sedang dalam tahap pengajuan indeksasi ke Scopus,” tutupnya.

(Suzan Lesmana)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*