LIPI Kukuhkan Profesor Riset Kementerian Kesehatan

Jakarta, Selasa 07 November 2017, Setelah vakum tiga tahun Pengukuhan Profesor Riset (Pengukuhan terakhir 24 November 2014), akhirnya Kementerian Kesehatan kembali menelurkan dua Profesor Risetnya, yakni Dr. Sudibyo Supardi, Apt. dengan kepakaran Bidang Farmasi dan Dr. drg. R. Niniek Lely Pratiwi, M.Kes., dengan kepakaran bidang Perilaku Kesehatan,, bertempat di di Ruang J. Leimena, Kementerian Kesehatan, Jl. H. R. Rasuna Said Blok X.5, Kav. 4–5 Jakarta.
Pengukuhan tersebut dihadiri oleh Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, SpM (K), Pelaksana Tugas Kepala LIPI, Prof. Dr. Ir. Bambang Subiyanto, M.Agr. selaku Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset, Kapusbindiklat Peneliti LIPI, Prof. Dr. Dwi Eny Djoko Setyono, M.Sc., selaku Sekretaris Majelis Pengukuhan Profesor Riset, para Profesor Riset Penilai Naskah Orasi yang terdiri dari Prof. Dr. dr. Lestari Handayani, M.Med. dan Prof. Dr. Wasis Budiarto, M.S. dari Kementerian Kesehatan, Prof. Dr. Partomuan Simanjuntak, M.Sc. dan Prof. Dr. Erman Aminullah dari LIPI, dan 6 Profesor Pendamping dari Kementerian Kesehatan, serta para pejabat struktural di lingkungan Kementerian Kesehatan serta Undangan yang berasal dari berbagai Kalangan dan Profesi.
Dalam pidatonya, Menteri Kesehatan menanggapi orasi ilmiahnya, Prof. Niniek yang mengangkat topik “Mengubah Perilaku Hidup Sehat Melalui Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan”. Menurutnya, mengubah perilaku masyarakat melalui intervensi program tidak akan berhasil kalau tidak dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Perubahan perilaku sehat di masyarakat dapat terwujud melalui siklus pemberdayaan masyarakat dengan metode yang dapat membangun kesadaran, memperbaiki nilai dan norma yang dapat diterima, dan akhirnya dipraktikkan dalam keseharian di masyarakat. DSC_0147

Lebih lanjut, menteri yang juga Profesor ini menyatakan bahwa masyarakat Indonesia dengan aneka ragam suku dan budaya serta sosial ekonomi, memiliki modal utama gotong royong, dapat dipakai sebagai kekuatan dan konstruksi sosial dalam pemberdayaan masyarakat. Partisipasi, membangun jejaring sosial, kemitraan, membangun komitmen pemangku kepentingan dalam upaya kesehatan merupakan ciri kemandirian yang sangat mendukung pencapaian masyarakat sehat secara utuh. Nilai sehat yang sudah terbangun di masyarakat mampu dipertahankan karena adanya komitmen dan kebijakan pemerintah. Berbagai penelitian dan intervensi telah dilakukan, dengan membangun nilai melalui peran tokoh masyarakat, tokoh adat sebagai agen penggerak perubahan.

Pemerintah bertanggung jawab untuk memberdayakan dan mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui pendekatan keluarga. Inovasi pemberdayaan masyarakat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) perlu diimplementasikan menyesuaikan dengan kondisi setempat. Penyesuaian terhadap kondisi tersebut akan mempercepat terbangunnya sistim nilai sehat pada masyarakat, yang tercermin dalam Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK).

Sementara untuk orasi ilmiah Prof. Sudibyo yang mengangkat topik “Merasionalkan Pengobatan Sendiri Melalui Promosi Kesehatan”, Prof. Nila mengatakan bahwa pengobatan sendiri oleh masyarakat di masa depan merupakan keniscayaan seiring dengan meningkatnya pendidikan masyarakat dan kemudahan akses informasi. Pengobatan sendiri merupakan salah satu upaya memperluas jangkauan pelayanan kesehatan sehingga pemerintah dapat memenuhi hak masyarakat untuk mendapat pelayanan kesehatan disamping sebagai upaya penghematan pembiayaan kesehatan.

Prof Nila menambahkan lagi bahwa promosi kesehatan merupakan salah satu cara mengubah perilaku masyarakat agar melakukan pengobatan sendiri secara rasional dengan pendekatan individu dan komunitas. Terdapat dua hak masyarakat pengguna obat yaitu hak memperoleh obat dan memperoleh informasi dan edukasi tentang obat yang diterima. Pemberian informasi obat untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam pengobatan sendiri yang rasional telah dilakukan, melalui berbagai metode promosi kesehatan yaitu pemberian leaflet dan booklet, komunikasi interpersonal dan edukasi kepada masyarakat, yang mengikuti perkembangan teknologi komunikasi serta karakteristik sasaran.

Ketersediaan informasi obat yang mudah diakses secara online, mudah dipahami, informasi obat yang objektif, dan sarana komunikasi merupakan dukungan perubahan perilaku pengobatan sendiri yang rasional. Alat komunikasi canggih serta minat masyarakat terhadap media sosial menjadi pilihan dalam menyebarkan informasi pengobatan sendiri yang rasional disamping cara yang lebih sederhana seperti penyuluhan, konseling, pemberian leaflet atau booklet.

Pada akhir pidatonya, Prof. Nila menegaskan bahwa berbagai program gerakan masyarakat merupakan upaya perubahan dan aksi masyarakat di bidang promosi kesehatan yang didukung pemerintah, swasta dan masyarakat, dalam rangka merasionalkan pengobatan sendiri. Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Kesehatan juga sudah melakukan program Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GEMA CERMAT), disamping juga ada Gerakan Keluarga Sadar Obat (GKSO) yang digalakkan oleh organisasi profesi, serta gerakan lainnya dari masyarakat.

Sebagai informasi bahwa kedua Profesor Riset Kementerian Kesehatan yang baru dikukuhkan tersebut adalah Profesor Riset yang ke-12 dan ke-13 dari Kementerian Kesehatan dan Profesor Riset yang ke-479 dan ke-480 secara Nasional. (SL)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*


20 − eight =