Tingkatkan Index Jurnal melalui Peningkatan Kapasitas Editor

Cibinong, Humas LIPI. Beberapa waktu yang lalu, peringkat publikasi ilmiah Indonesia terindeks Scopus melesat ke posisi pertama menyalip Malaysia diantara negara ASEAN. Terbitan jurnal dan prosiding Indonesia pada tahun 2019 berjumlah 33.183 terbitan, dibanding Malaysia dengan jumlah 32.988 terbitan. Kondisi ini tentunya menunjukkan upaya positif seluruh pihak yang terlibat untuk berkontribusi meningkatkan kualitas publikasi nasional.

Saat ini salah satu upaya pemerintah untuk mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah adalah melalui pelatihan. Upaya tersebut terlaksana dengan adanya kerja sama Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemristekdikti) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk menyelenggarakan pelatihan untuk peningkatan indx jurnal. “Pelatihan peningkatan kapasitas editor jurnal elektronik merupakan kerja sama untuk meningkatkan index jurnal di level nasional maupun internasional”, jelas Ragil Yoga Edi selaku Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan (Pusbindiklat) LIPI saat membuka pelatihan pada Senin (14/10) di Cibinong.
WhatsApp Image 2019-10-14 at 14.41.33

Dirinya menjelaskan terdapat tiga isu terkait pengelolaan karya tulis ilmiah. Pertama adalah produktivitas. Perlu dianalisis antara jumlah peneliti dan jumlah jurnal yang ada. Selanjutnya dilakukan pemetaan litbang yang bermasalah dalam pengelolaan riset yang memang tidak menganggarkan dana untuk penelitian secara memadai.
Isu yang kedua adalah aksesbilitas. Wujud upaya lembaga litbang mengembalikan investasi publik dari peneliti kepada masyarakat, karena yang dikehendaki oleh masyarakat adalah akses terhadap knowledge-nya. Kondisi tersebut terkadang terhalang adanya knowledge stagnancy, dimana ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh lembaga litbang/peneliti tidak bermuara ke tempat yang tepat. Padahal idealnya dapat bermuara ke industri, pengusaha, maupun masyarakat umum untuk dapat dimanfaatkan.

“Isu ketiga adalah manajemen jurnal itu sendiri, belum ada payung fungsional yang mewadahi profesi-profesi kejurnalan ini. Kita mulai mencoba kembangkan profesi-profesi apa yang bisa dikembangkan dari sistem pengelolaan jurnal, sehingga mereka punya gambaran,” imbuh Ragil.

Selain itu, Ragil menjelaskan bahwa sebuah sistem harus dilihat secara komprehensif. Tidak hanya mendorong peneliti untuk menghasilkan riset, tetapi perlu dukungan untuk mampu mengelola jurnal dengan baik dan tertata rapi.

Pelatihan ini diyakini dapat membekali peserta dengan pengetahuan dalam mengelola dan mengaplikasikan sistem pengelolaan jurnal ilmiah secara elektronik. Terutama dapat memenuhi standar minimal sebuah jurnal ilmiah beserta akreditasinya. Diharapkan pelatihan ini dapat bermanfaat bagi peserta dalam mengelola jurnal yang baik, sehingga publikasi peneliti dapat terwadahi dan dapat diakses oleh masyarakat secara cepat dan murah.

Sebagai informasi pelatihan Gelombang I diikuti oleh 30 peserta dan akan dilaksanakan pada tanggal 14-18 Oktober 2019. Proses pembelajaran dilakukan melalui metode ceramah, praktik (learning by doing), diskusi dan pemaparan hasil kerja kelompok (sep/ed.sa)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*


5 + 14 =