Pusbindiklat LIPI Selenggarakan PPJFP secara Daring

Cibinong, Humas LIPI. LIPI melalui Pusbindiklat LIPI  menyelenggarakan Pelatihan Pembentukan Jabatan Fungsional Peneliti (PPJFP) Gelombang VI yang berlangsung dari tanggal  19 Oktober – 18 November 2020, di Kampus Pusbindiklat LIPI, Komples Cibinong Science Center – Botanical Garden, Cibinong. Penyelenggaraan pelatihan didasarkan UU No. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), yang dipertegas PP No. 11 tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, tiap ASN jabatan fungsional harus memenuhi kompetensi teknis, manajerial dan sosio kultural dan sesuai dengan PP No. 101 tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil ditegaskan  bahwa pendidikan dan pelatihan bagi PNS harus dapat meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap agar dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional.

“Kurikulum pelatihan mengacu pada standar kompetensi kebutuhan pada Jabatan Fungsional Peneliti  Ahli Pertama, yaitu menguasai dasar keilmuan sesuai bidang kepakaran melalui tahapan mengidentifikasi masalah, melakukan penelusuran informasi ilmiah untuk mencari alternatif solusi atas masalah, menganalisis hasil dan menyampaikan hasil yang menjadi topik kegiatan pada tingkat dasar,” tutur Plt. Kepala Subbidang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Fungsional, Arvita Rosmawati, S.Pi., M.Si. saat memberikan laporan penyelenggaraan

 Penilaian kinerja Jabatan Fungsional Peneliti tidak dilakukan hanya saat proses, namun syarat hasil kerja minimal didasarkan pada hasil akhir untuk memenuhi kompetensi dan hasil kerja minimal peneliti ahli pertama. “Oleh karena itu dibutuhkan kompetensi dasar dalam penyusunan proposal sebagai pembekalan dasar seorang  peneliti, untuk melakukan kegiatan penelitian dan menghasilkan output penelitian yang berkualitas,” imbuhnya.

Arvita menjelaskan sasaran dari penyelenggaraan pelatihan ini yang pertama terlatihnya CPNS atau PNS peneliti atau kandidat peneliti yang mampu  melaksanakan tugas dan fungsi Jabatan Fungsional Peneliti sesuai jenjang jabatannya, dengan menerapkan etika peneliti dan penelitian. Kemudian yang kedua terpenuhinya kompetensi dasar untuk  menduduki Jabatan Fungsional Peneliti Ahli Pertama sesuai bidang tugasnya.

“Pelatihan ini diikuti oleh 20 orang peserta yang berasal dari kelompok bidang keilmuan sosial. Proses pembelajaran dilakukan secara daring dengan pembelajaran sinkronus dan asinkronus”, tutup Arvita mengakhiri laporan.

PPJFP Gelombang VI ini diikuti beberapa lembaga, yaitu Lembaga Administrasi Negara (LAN), Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Prop. Jambi, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM RI), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM RI), dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna, serta dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

“Pelatihan ini full e-learning, suatu keniscayaan pada saat pandemi bisa dikatakan ini sebagai “blessing in disguise”.  Karena pandemi kita mau tidak mau harus tetap produktif, harus tetap sehat dan harus dapat memanfaatkan seluruh kemudahan teknologi informasi yang ada, sehingga pelatihan ini dapat dilaksanakan, “ kata Plt. Kapusbindiklat LIPI, Raden Arthur  Ario Lelono, Ph.D., saat membuka pelatihan.

“Yang perlu saya sampaikan bahwa komitmen peserta itu memang harus tinggi karena ini salah satu kunci dari keberhasilan dan keefektifan dari tercapainya output pelatihan ini,” tegasnya.

Arthur menyampaikan harapannya, “Saya berharap dengan pelatihan yang berbasis online ini tidak mengurangi kualitas dan efektivitas output dari pelatihan ini. Di pelatihan dasar ini diharapkan untukbisa  membangun atau mengkontruksi suatu proposal penelitian. Bagaimana mengidentifikasi, mengungkapkan dan membuat permasalahan ilmiah yang kemudian dikupas dan dikaji berdasarkan scientific evidence. Kami berharap selama 20 hari ke depan para peserta tetap semangat mengkontruksi suatu proposal penelitian dan berkonsultasi intens dengan para pembimbing secara online, dengan memanfaatan zoom atau whatsapp grup”.

Sebagai penutup Arthur mengatakan, ”Di akhir kata semoga kita selalu diberikan kesehatan dan kemauan yang kuat untuk tetap berkomitmen dalam melaksanakan pelatihan ini, sehingga di akhir waktu nanti setelah hari ke 20 kita mendapatkan hasil yang maksimal. Dan ini dapat dimanfaatkan peserta pelatihan sebagai dasar untuk mengembangkan kompetensi sebagai peneliti di masing-masing lembaga maupun kementerian”. (IkS ed Sl).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*


five + eleven =