Pentingnya Klirens Etik Penelitian

Cibinong, Humas LIPI. Klirens Etik sangat penting bagi peneliti. Ibarat jantung, klirens etik  bekerja untuk memastikan pekerja riset atau kerja inovasi bekerja sesuai kaidah ilmiah. “Klirens etik pertama kali dijalankan di bidang kedokteran. Ada metodologi yang harus diikuti dengan disiplin karena subjek yang diteliti adalah mahluk hidup, misalnya mencari vaksin untuk COVID-19,”ungkap Syahrir Ika, selaku Ketua Umum Himpunan Peneliti Indonesia (HIMPENINDO) saat membuka Webinar “Pentingnya Klirens Etik dalam Penelitian: Perspektif Ilmu Sosial dan Hayati pada hari Rabu (08/7).

Peneliti Kependudukan LIPI, Augustina Situmorang, sekaligus Ketua Komisi Klirens Etik bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan LIPI menjelaskan klirens etik di Indonesia lebih banyak pada manusia karena berkaitan dengan medikal riset. Namun, untuk ilmu sosial masih baru khususnya. “Klirens etik merupakan suatu instrumen untuk mengukur keberterimaan secara etik suatu rangkaian proses penelitian sehingga semua penelitian yang melibatkan manusia tidak boleh melanggar standar etik yang berlaku universal tetapi juga harus memperhatikan berbagai aspek sosial budaya masyarakat yang diteliti, oleh karena itu komisi klirens etik diperlukan oleh setiap negara,” terangnya.

Dirinya juga memaparkan tujuan klirens etik adalah melindungi subjek penelitian/ responden dari bahaya secara secara fisik, psikis, sosial dan konsekuensi hukum akibat turut berpartisipasi dalam suatu penelitian. “Prinsip dasar kode etik penelitian medikal dan sosial yaitu: pertama, menghormati individu, menghormati otonomi, menghargai kebebasan seseorang terhadap pilihan sendiri termasuk wawancara, melindungi subjek contohnya kecacatan. Kedua,  kemanfaatan dan menimalkan bahaya, desain harus jelas. Ketiga, berkeadilan keseimbangan  “ jelas Augustina.

Sementara itu, Andria Agusta, Peneliti Kimia LIPI sekaligus selaku Ketua Komisi Klirens Etik menggunakan hewan coba LIPI menjelaskan definisi hewan coba adalah hewan dan satwa liar yang digunakan dalam penelitian, pengujian, atau pendidikan. “Hewan perlu diperhatikan kesejahteraannya dalam penelitian dimaksudkan pertama, meningkatkan penyadartahuan mengenai kesejahteraan hewan dan pemanfaatan hewan coba dalam dunia penelitian. Kedua, memastikan penggunaan hewan dalam suatu penelitian dapat dipertanggungjawabkan terkait penelitian yang akan dilakukan. Ketiga, melindungi objek hewan coba berdasarkan prinsip kesejahteraan hewan dalam kegiatan penelitian. Keempat, melindungi peneliti dari permasalahan  etik yang mungkin muncul dari penggunaan hewan coba, jika ada tuduhan percobaan penelitian untuk hewan yang tidak berprikehewanan,” rinci Andria.

Langkah selanjutnya menurut Andria, setelah melakukan penelitian harus mencapai luaran dari penelitian salah satunya berupa karya tulis ilmiah internasional dimana publikasi yang melibatkan hewan coba wajib disertai dengan klirens etik hewan coba. Andria juga mengingatkan perlu diperhatikan menyusun proposal penelitian jangan sampai setelah melakukan penelitian kemudian menulis sebuah makalah submit jurnal  tertentu ternyata jurnal yang dituju rata-rata luar negeri  mensyaratkan adanya approval dari etika klirens dari hewan coba. “Jika terlanjur, akan  sangat susah mendapatkan approval karena tahapan pengusulan etika klirens ini harus sebelum dilakukan penelitian,” ungkap Andria.

Dirinya juga menambahkan beberapa kriteria penelitian yang memerlukan klirens etik adalah pertama, setiap penelitian yang menggunakan objek penelitian harus melalui proses klirens etik penelitian. Kedua, diterapkan pada hewan coba yaitu hewan peliharaan, satwa liar, hewan laboratorium. Dan ketiga,  penelitian yang menggunakan objek penelitian hewan coba dikecualikan dari proses Klirens Etik Penelitian untuk seluruh Hewan Coba invertebrate kecuali cephalopoda (cumi-cumi, gurita, nautilus) dan decapoda (udang, lobster, kepiting). (wd/ed sl)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*


one × four =