Peningkatan Kompetensi ASN dalam Mengemas Informasi Digital sebagai Sumber Literasi Iptek

Cibinong, Humas LIPI. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kita diuntungkan dengan kemajuan teknologi dan perkembangan di era digital, seperti sekarang ini. Pemakaian internet beberapa tahun belakangan ini sudah mulai banyak digunakan dalam berbagai bidang pekerjaan, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan dan pelatihan. Plt. Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan LIPI, Raden Arthur Ario Lelono, menjelaskan upaya LIPI untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi ASN dalam hal pengemasan informasi secara digital yang diawali dengan menyelenggarakan webinar “Kemasan Informasi Digital sebagai Sumber Literasi IPTEK” diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan (Pusbindiklat) LIPI pada Kamis (24/09).

“Ini adalah kondisi “blessing in disguise” pada masa pandemi, dimana kita harus dapat memanfaatkan semua bentuk informasi baik online melalui internet maupun offline agar tetap dapat produktif di masa pandemi ini. Diharapkan peserta dapat memahami dan mendapatkan informasi bagaimana mengoptimalkan konten-konten yang ada di internet sehingga bisa dijadikan sumber literasi Iptek,” tutur Arthur.

Dirinya mengungkapkan bahwa ke depan kita akan menyelenggarakan pelatihan bagi peserta yang menggeluti bidang ini atau jabatan fungsional yang mempunyai kepentingan memanfaatkan sumber informasi menjadi sumber literasi Iptek. “Tugas Widyaiswara Pusbindiklat LIPI untuk membuat kurikulum atau paket pelatihan tentang kemasan informasi digital sebagai sumber literasi Iptek,” terangnya.

Dwiyanto Wahyu Ari Nugroho, Pustakawan Muda dari Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah LIPI, dengan bidang keahlian informasi dan perpustakaan menyampaikan materi teknik penelusuran dan analisis informasi. Ia menyampaikan materi teknik penelusuran dan analisis informasi. Pokok bahasan yang disampaikan meliputi internet overview (data dan fakta terkait perkembangan internet), penelusuran informasi (teknik penelusuran informasi pada search engine) dan analisis informasi (model evaluasi dan analisis informasi).

“Literasi informasi yang perlu dilakukan adalah menyadari kebutuhan informasi, menemukan dan mengevaluasi kualitas informasi yang didapatkan, menyimpan dan menemukan kembali informasi, membuat dan menggunakan informasi secara etis dan efektif, dan mengkomunikasikan pengetahuan,” jelas Ari. “Kegagalan menemukan informasi bisa disebabkan oleh sistem dan keputusan pemakai saat berinteraksi dengan sistem, dan kegagalan yang disebabkan oleh pemakai serta interaksinya lebih serius dan sulit dibenahi,” imbuh Ari.

Ari memaparkan data dan fakta online tahun 2020 dari berbagai sumber terkait internet overview, jumlah pengguna media online, mobile phone, online shoppers, social media users yang terus meningkat di masa pandemi ini. Ari juga memaparkan data banyaknya jumlah tweets setiap menit online, video viewed, social media new user dan images upload. “Diprediksi penggunaan data di dunia pada tahun 2025 akan mencapai 175 ZB.

Ari menerangkan pula penggunaan search engine dalam penelusuran informasi mempunyai keunggulan antara lain cakupan informasi, kemutakhiran, konektifitas dan aksesibilitas, interaktif. “Kekurangannya adalah adanya hoax, tindakan kejahatan (pencurian, perjudian, pornografi, dll) dan sifatnya yang adiktif,” ungkapnya.

Sementara itu Andrian Wikayanto, M.Ds., Peneliti Pertama Bidang Seni Kontemporer dari Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, dengan bidang keahlian teori desain, animasi dan desain grafis menyampaikan empat pokok bahasan dalam webinar kali ini yaitu visual analitics, data visualization, information design dan infographic.

“Visual analitics adalah ilmu dalam menganalisa data yang difasilitasi oleh user interface visual yang interaktif. Interaktif bisa dalam bentuk tradisional, bisa jadi bentuknya di print di kertas kemudian ditata rapi sehingga memudahkan kita untuk mencari data yang akan kita analisa, jadi tidak selalu berhubungan dengan komputer atau software,” jelasnya disertai contoh-contoh.

Sedangkan data visualization adalah representasi grafis dari informasi  dan data yang bisa menggunakan elemen-elemen visual seperti bagan, grafik atau peta. Yang berfungsi untuk mempermudah kita dalam memahami dan  melihat data. Pentingnya data visualization yang bertujuan untuk transform data menjadi informasi dan informasi menjadi insight,” tambah Andrian lebih jauh.

Andrian memaparkan dalam data visualization terdapat beberapa cabang antara lain scientific visualization yaitu menerapkan visualisasi ke dalam data ilmiah yang biasanya berupa data fisik, yang dilakukan untuk memahami fenomena tertentu dalam melihat sebuah data. “Perkembangan saat ini data tidak hanya 2D tapi juga bisa 3D atau dalam bentuk virtual reality atau augmented reality,” tuturnya

“Cabang lainnya yaitu information visualization, fokus pada visualisasi data non fisik seperti data keuangan, laporan ekonomi, dll. Dan selanjutnya adalah geo visualization penggunaaannya lebih spesifik karena menggambarkan obyek atau fenomena yang terkait di lokasi tertentu di dunia nyata seperti arah mata angin, transportasi udara, dll,” lanjut Andrian

“Sedangkan information design yang merupakan praktek menyampaikan informasi secara efektif dan efisien agar data yang bersifat abstrak lebih mudah dipahami, tidak hanya bersifat data dapat berupa peta, petunjuk arah, dsb. Sementara infografis adalah salah satu genre di dunia desain, sebuah visualisasi grafis dari sebuah informasi atau pengetahuan yang ditujukan untuk menyajikan informasi dengan tepat dan jelas,” rinci Andiran.

Andrian menyimpulkan, “visual analytics lebih ke knowledgenya, data visualization adalah platform atau wadahnya, information design adalah prakteknya dan infographics adalah digital artefak,” terangnya. Terakhir Andrian menjelaskan information designer process, dimana data science merupakan bidang inter disiplin yang menggunakan metode ilmiah pada sistem proses algoritma untuk mengekstrak pengetahuan dan insight data yang bersifat terstuktur atau abstrak.

Sementara Design science menurut Andrian adalah ilmu untuk memecahkan sesuatu memberikan jawaban atau memecahkan masalah. Andrian menjelaskan bentuk skema yang menghubungkan  mulai dari data transformation, visual mapping, view transformation hingga human interaction.

Di sisi lain,  Abdurrakhman Prasetyadi, Peneliti Pertama Bidang Jurnalistik, Kurator dan Kepustakaan di Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah LIPI, dengan bidang keahlian analisis data dan informasi, bibliometric dan sistem perpustakaan digital menyampaikan topik bahasan konversi kemasan informasi digital, yang membahas dua pokok bahasan yaitu  penetrasi internet dan produk pengetahuan baru,

Abdurrakhman menjelaskan dampak positif dari penetrasi internet yaitu menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi negara, penyebaran pengetahuan, peningkatan kemampuan konsumen, membangun jaringan, mengelola interaksi sosial di seluruh dunia. “Pada webinar kali ini  saya fokus pada dampak positif internet sebagai media penyebaran pengetahuan, melalui proses capture knowledge (capture specimen data, transfer data to computer, upload data) hingga sharring knowledge,” ujarnya memulai paparan.

“Kondisi pandemi ini merupakan peluang kita untuk unjuk gigi membuat produk digital apa yang tidak ada/jarang ada di google. Inilah kesempatan mumpung user kerja di rumah banyak menggunakan internet untuk menghasilkan produk pengetahuan baru,” katanya.

Abdurrakhman menjelaskan lebih rinci tentang produk pengetahuan baru yang terdiri dari laman pengetahuan baru, web pengetahuan interaktif, e-book tematik, visualisasi data dan manajemen aset digital. “Laman Pengetahuan merupakan produk pengetahuan  berbasis gambar/video/motion grafis yang dishare melalui media sosial seperti facebook dengan durasi singkat, disusun berdasarkan kronologis, disertai pengantar dan simpulan,“jelasnya disertai tayangan contoh-contoh laman yang dimaksud.

“Sedangkan web pengetahuan interaktif merupakan produk pengetahuan berbasis html interaktif. User dapat berinteraksi melalui menu/tombol instruksi yang disediakan. Tematik merupakan produk pengetahuan berbasis tematik dan dibuat menggunakan aplikasi e-book 3D,” lanjut Abdurrakhman

Dirinya menerangkan e-book tematik disusun berdasarkan ragam informasi yang dikumpulkan kemudian disusun per kategori dari subyek utama. Sedangkan visualiasasi data merupakan produk pengetahuan berbasis visualisasi data penelitian,” ungkap Abdurrakhman.

“Produk ini dibuat dari  dataset suatu bidang penelitian dan/atau fenomena tertentu. Dan terakhir manajemen aset digital merupakan produk pengetahuan berbasis manajemen aset yang dikelola dan dishare kepada internal organisasi maupun publik,” tambah Abdurrakhman.

Selanjutnya Abdurrakhman menyampaikan konversi kemasan informasi digital yang meliputi e-book 3D, web interaktif, visualisasi data dan digital asset management. “E-book 3D merupakan dokumen pengetahuan bisa dikonversikan ke dalam flipbook dengan aplikasi online seperti flipsnack.com. Untuk versi lanjut dapat menggunakan aplikasi flippingbook publisher. Web interaktif dikembangkan salah satunya dengan Google Sites (sites.google.com),” jelasnya sembari memberikan contoh-contoh penjelasan yang dimaksud.

“Data dapat divisualisasikan dengan berbagai tools, salah satunya Tableau Public. Tools ini memungkinkan user dapat mengimport dan menganalisis data statis (excel) dan dinamis dari server (google spreadsheet). Dan dalam digital asset management untuk mengelola aset digital bisa menggunakan DAM Tools seperti Resource Space (resourcespace.com). Terdapat pilihan fitur gratis dengan storage yang diberikan 100GB,” pungkas Abdurrakhman mengakhiri paparan. (IkS ed SL)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*


thirteen − 9 =